Tempe diketahui sarat dengan kandungan gizi dan baik bagi kesehatan.
Telah banyak pakar yang meneliti kelebihan makanan rakyat yang satu ini.
Bahkan, Dr Mary Astuti, ahli nutrisi dari Universitas Gadjah Mada,
mengaitkan tingginya usia harapan hidup seseorang dengan tingkat
konsumsi tempe.
Menurut pakar tempe ini, mengkonsumsi tempe secara teratur bisa
meningkatkan usia harapan hidup seseorang. Hal ini bisa dilihat pada
tingginya angka usia harapan hidup penduduk Yogyakarta, yang merupakan
daerah dengan tingkat konsumsi tempe tertinggi di Indonesia.
"Orang Yogya rata-rata mengkonsumsi 75 gram tempe per hari," ujar Dr
Mary Astuti, kepada Pembaruan, seusai berbicara dalam seminar "Peranan
Kedele pada Kesehatan" di Jakarta, baru-baru ini.
Jepang, lanjutnya, juga mempunyai tingkat konsumsi tempe cukup tinggi.
Di sana, pernah dilakukan penelitian di suatu daerah yang usia harapan
hidupnya paling rendah. Ternyata, ditemukan tingkat konsumsi tempe
penduduknya juga rendah.
"Khasiat tempe pada kesehatan tidak diragukan lagi. Beberapa penelitian
telah membuktikan, tempe memiliki efek antidiare dan hipolipidemik."
"Dengan efek antidiare, tempe bisa digunakan untuk mengatasi kasus-kasus
gastroenteritis pada anak, sedangkan efek hipolipidemia dapat digunakan
untuk pencegahan penyakit jantung koroner," tandas Astuti.
Memang kita tidak perlu ragu lagi, tempe yang dipandnag sebagai makanan
rakyat kelas bawah ini, mempunyai khasiat yang luar biasa.
Apalagi, sebagaimana yang diteliti oleh Ambar Yoganingrum dan Minta
Rachmawati, staf dari Pusat Data dan Informasi Ilmiah (PDII) Lembaga
Ilmu pengetahuan Indonesia (LIPI), limbah olahan tempe pun ternyata
sangat bermanfaat.
Menurut mereka, tempe sebagai hasil olahan kedelai, memiliki berbagai
kelebihan yang menakjubkan. Kandungan protein yang tinggi pada tempe
sangat baik untuk pertumbuhan anak-anak; mencegah diare dan perut
kembung pada anak.
Selain itu, kandungan isoflavonnya merupakan obat berbagai penyakit
modern seperti kanker, jantung, dan Atherosklerosis.
Tempe juga mengandung berbagai vitamin, sembilan jenis asam amino
essensial, dan tidak mengandung kolesterol.
Keajaiban tempe bukan saja pada nilai gizi dan khasiatnya. Limbah yang
dihasilkan pada pembuatan tempe, berupa limbah padat dan cair dapat pula
dimanfaatkan.
Dengan demikian, kemungkinan rusaknya ekosistem akibat limbah tersebut
bisa dicegah. "Limbah yang dibuang begitu saja ke lingkungan tanpa
diolah terlebih dulu akan merusak ekosistem."
"Lingkungan yang dapat terpengaruh adanya limbah yakni air, tanah dan
udara, sehingga menyebabkan akumulasi dan pencemaran seperti sungai
menjadi kotor, tanah tidak dapat ditanami, serta ikan-ikan dan biota
lainnya mati," ujar mereka.
Untuk mencegah terjadinya pencemaran tersebut, limbah olahan tempe
seperti air bekas rendaman, dan kulit kedelai dapat dimanfaatkan untuk
berbagai keperluan.
Manfaat Limbah Kedelai
Biasanya, lanjut mereka, air bekas rendaman kedelai dibuang begitu saja
oleh pengusaha tempe, sebab dianggap sudah tidak memiliki nilai ekonomis
lagi untuk diolah lebih lanjut.
Padahal, air bekas rendaman tersebut masih berguna sebagai bahan dasar
pembuatan minuman segar berupa Nata de Soya.
Minuman ini merupakan hasil fermentasi air bekas rendaman kedelai dengan
Azetobacter, di mana air limbah tersebut berfungsi sebagai media
pertumbuhan bakteri Azetobacter.
Kendati hanya sisa rendaman, air limbah tersebut diperkirakan masih
mengandung protein, karbohidrat, dan serat berlarut.
Sebagai hasil fermentasi, Nata de Soya kaya dengan kandungan serat yang
sangat baik untuk mencegah penyakit sembelit.
Manfaat lain air bekas rendaman tersebut, pengolahan limbah cair secara
biologis dengan menumbuhkan Algae (chrorella sp).
Hasil penelitian di Jepang tahun 1980, yang membandingkan antara limbah
cair kedelai, kotoran berupa lumpur, dan air daun teh pada pertumbuhan
Chlorella menunjukkan; pertumbuhan Chlorella tertinggi diperoleh pada
medium air kedelai dengan jenis Chlorella pyrenoidosa, yakni tumbuhan
renik air (Phytoplanton) berukuran sangat sedang kecil antara 3-15
mikron, bersel tunggal, berinti sel, tidak memiliki akar dan daun, serta
hidupnya mengapung.
Chlorella banyak mengandung asam lemak Omega-3 yang memiliki sifat
sangat istimewa, yakni dapat menurunkan kadar kolesterol dan
trigliserida darah, serta meningkatkan kadar lipoprotein berat jenis
tinggi (HDL) dalam darah.
Menurut para ahli gizi, kebutuhan manusia akan asam lemak Omega-3
kira-kira setara dengan 30 gram daging ikan segar per hari.
Sehingga, untuk memperoleh asam lemak Omega-3, orang tidak perlu
mengkonsumsi ikan laut, tapi cukup dengan chlorella.
Manfaat Kulit Kedelai
Pada pembuatan tempe, kulit kedelai memang harus dikupas dan tidak
diikutkan pada proses selanjutnya.
Kulit kedelai mengandung 9-16,5 persen protein, 67 persen serat, dan
kadar lignin rendah. Komposisi kandungan kulit kedelai ini bervariasi,
tergantung dari cara pengolahannya, yakni pengupasan secara manual akan
berbeda nilainya dengan cara menggunaka mesin (digiling).
Karena kandungan tersebut, kulit kedelai dimanfaatkan untuk makanan
ternak. Tambahan pula dengan kadar lignin yang rendah, kulit kedelai
dapat dicerna dengan sempurna dalam saluran pencernaan sapi, kambing,
dan babi.
Dalam studi literaturnya, Ambar dan Minta mengatakan, dalam dunia
farmasi temuan Tim Prof Dr Djojosoebagia berupa serat kasar dari kulit
kedelai menunjukkan; kedelai yang telah berhasil dihilangkan kulitnya,
tidak memiliki kemampuan menurunkan kolesterol dalam darah.
Kulit kedelai memiliki daya menurunkan kolesterol darah, kadar
trigliserida, kadar LDL (Low Density Lipoprotein), dan HDL (High Density
Lipoprotein).
Serat yang dikandung kulit kedelai dapat menghambat intensitas
penyempitan pembuluh darah, ini disebabkan karena kandungan terhadap
Campesterol, Stigmasterol, dan Beta sitosterol. Serat dalam kulit
mengandung selulosa 47 persen, dan hemiselulosa hampir 20 persen.
Selulosa ini diekstraksi dan digunakan untuk berbagai keperluan.
Hemiselulosa kulit kedelai dapat merangsang kerja IPSF (Immunoglobulin
Production Stimulating Factor) untuk menghasilkan immunoglobin pada
manusia. Immunoglobin, senyawa yang berperan terhadap kekebalan tubuh
manusia terhadap penyakit.
Pada industri kimia, kulit kedelai dimanfaatkan untuk pembuatan PCS
(Plastic Composite Support). PCS ini mengandung 35 persen kulit kedelai
dan 15 persen limbah pertanian yang lain, serta 50 persen lagi
Polipropilen.
PCS merupakan media tumbuh yang digunakan untuk proses fermentasi pada
pembuatan alkohol, dan asam laktat kulit kedelai pun dimanfaatkan
sebagai campuran pada karbon penyerap. Pada industri makanan, kulit
kedelai ini digiling menjadi tepung, dan digunakan sebagai cmpuran
pembuatan roti.
Dalam roti juga dimasukkan senyawa besi, karena senyawa besi ini penting
di dalam sel-sel jaringan, terutama di dalam haemoglobin darah, sebagai
pengangkut oksigen.
Bila senyawa besi ini kurang, biasanya akan terjadi penyakit kekurangan
darah. Roti yang dikonsumsi ini dimaksudkan untuk pengobatan penyakit
anemia (kekurangan darah). Percobaan pada tikus menunjukkan adanya
peningkatan haemoglobin (Hb) dan hemotocrit (Hct), setelah mengkonsumsi
roti tersebut.
Selengkapnya...
Rabu, Mei 27, 2009
Tempe Bisa Memperpanjang Usia
Senin, Mei 18, 2009
SUSU SAPI BUKAN UNTUK MANUSIA
Tidak ada makhluk di dunia ini yang ketika sudah dewasa masih minum susu -kecuali manusia. Lihatlah sapi, kambing, kerbau, atau apa pun: begitu sudah tidak anak-anak lagi tidak akan minum susu. Mengapa manusia seperti menyalahi perilaku yang alami seperti itu?
"Itu gara-gara pabrik susu yang terus mengiklankan produknya," ujar Prof Dr Hiromi Shinya, penulis buku yang sangat laris: The Miracle of Enzyme (Keajaiban Enzim) yang sudah terbit dalam bahasa Indonesia dengan judul yang sama. Padahal, katanya, susu sapi adalah makanan/minuman paling buruk untuk manusia. Manusia seharusnya hanya minum susu manusia. Sebagaimana anak sapi yang juga hanya minum susu sapi. Mana ada anak sapi minum susu manusia, katanya.
Mengapa susu paling jelek untuk manusia? Bahkan, katanya, bisa menjadi penyebab osteoporosis? Jawabnya: karena susu itu benda cair sehingga ketika masuk mulut langsung mengalir ke kerongkongan. Tidak sempat berinteraksi dengan enzim yang diproduksi mulut kita. Akibat tidak bercampur enzim, tugas usus semakin berat. Begitu sampai di usus, susu tersebut langsung menggumpal dan sulit sekali dicerna. Untuk bisa mencernanya, tubuh terpaksa mengeluarkan cadangan "enzim induk" yang seharusnya lebih baik dihemat. Enzim induk itu mestinya untuk pertumbuhan tubuh, termasuk pertumbuhan tulang. Namun, karena enzim induk terlalu banyak dipakai untuk membantu mencerna susu, peminum susu akan lebih mudah terkena osteoporosis.
Profesor Hiromi tentu tidak hanya mencari sensasi. Dia ahli usus terkemuka di dunia. Dialah dokter pertama di dunia yang melakukan operasi polip dan tumor di usus tanpa harus membedah perut. Dia kini sudah berumur 70 tahun. Berarti dia sudah sangat berpengalaman menjalani praktik kedokteran. Dia sudah memeriksa keadaan usus bagian dalam lebih dari 300.000 manusia Amerika dan Jepang. Dia memang orang Amerika kelahiran Jepang yang selama karirnya sebagai dokter terus mondar-mandir di antara dua negara itu.
Setiap memeriksa usus pasiennya, Prof Hiromi sekalian melakukan penelitian. Yakni, untuk mengetahui kaitan wujud dalamnya usus dengan kebiasaan makan dan minum pasiennya. Dia menjadi hafal pasien yang ususnya berantakan pasti yang makan atau minumnya tidak bermutu. Dan, yang dia sebut tidak bermutu itu antara lain susu dan daging.
Dia melihat alangkah mengerikannya bentuk usus orang yang biasa makan makanan/minuman yang "jelek": benjol-benjol, luka-luka, bisul-bisul, bercak-bercak hitam, dan menyempit di sana-sini seperti diikat dengan karet gelang. Jelek di situ berarti tidak memenuhi syarat yang diinginkan usus. Sedangkan usus orang yang makanannya sehat/baik, digambarkannya sangat bagus, bintik-bintik rata, kemerahan, dan segar.
Karena tugas usus adalah menyerap makanan, tugas itu tidak bisa dia lakukan kalau makanan yang masuk tidak memenuhi syarat si usus. Bukan saja ususnya kecapean, juga sari makanan yang diserap pun tidak banyak. Akibatnya, pertumbuhan sel-sel tubuh kurang baik, daya tahan tubuh sangat jelek, sel radikal bebas bermunculan, penyakit timbul, dan kulit cepat menua. Bahkan, makanan yang tidak berserat seperti daging, bisa menyisakan kotoran yang menempel di dinding usus: menjadi tinja stagnan yang kemudian membusuk dan menimbulkan penyakit lagi.
Karena itu, Prof Hiromi tidak merekomendasikan daging sebagai makanan. Dia hanya menganjurkan makan daging itu cukup 15 persen dari seluruh makanan yang masuk ke perut.
Dia mengambil contoh yang sangat menarik, meski di bagian ini saya rasa, keilmiahannya kurang bisa dipertanggungjawabkan. Misalnya, dia minta kita menyadari berapakah jumlah gigi taring kita, yang tugasnya mengoyak-ngoyak makanan seperti daging: hanya 15 persen dari seluruh gigi kita. Itu berarti bahwa alam hanya menyediakan infrastruktur untuk makan daging 15 persen dari seluruh makanan yang kita perlukan.
Dia juga menyebut contoh harimau yang hanya makan daging. Larinya memang kencang, tapi hanya untuk menit-menit awal. Ketika diajak "lomba lari" oleh mangsanya, harimau akan cepat kehabisan tenaga. Berbeda dengan kuda yang tidak makan daging. Ketahanan larinya lebih hebat.
Di samping pemilihan makanan, Prof Hiromi mempersoalkan cara makan. Makanan itu, katanya, harus dikunyah minimal 30 kali. Bahkan, untuk makanan yang agak keras harus sampai 70 kali. Bukan saja bisa lebih lembut, yang lebih penting agar di mulut makanan bisa bercampur dengan enzim secara sempurna. Demikian juga kebiasaan minum setelah makan bukanlah kebiasaan yang baik. Minum itu, tulisnya, sebaiknya setengah jam sebelum makan. Agar air sudah sempat diserap usus lebih dulu.
Bagaimana kalau makanannya seret masuk tenggorokan? Nah, ini dia, ketahuan. Berarti mengunyahnya kurang dari 30 kali! Dia juga menganjurkan agar setelah makan sebaiknya jangan tidur sebelum empat atau lima jam kemudian. Tidur itu, tulisnya, harus dalam keadaan perut kosong. Kalau semua teorinya diterapkan, orang bukan saja lebih sehat, tapi juga panjang umur, awet muda, dan tidak akan gembrot.
Yang paling mendasar dari teorinya adalah: setiap tubuh manusia sudah diberi "modal" oleh alam bernama enzim-induk dalam jumlah tertentu yang tersimpan di dalam "lumbung enzim-induk". Enzim-induk ini setiap hari dikeluarkan dari "lumbung"-nya untuk diubah menjadi berbagai macam enzim sesuai keperluan hari itu. Semakin jelek kualitas makanan yang masuk ke perut, semakin boros menguras lumbung enzim-induk. Mati, menurut dia, adalah habisnya enzim di lumbung masing-masing.
Maka untuk bisa berumur panjang, awet muda, tidak pernah sakit, dan langsing haruslah menghemat enzim-induk itu. Bahkan, kalau bisa ditambah dengan cara selalu makan makanan segar. Ada yang menarik dalam hal makanan segar ini. Semua makanan (mentah maupun yang sudah dimasak) yang sudah lama terkena udara akan mengalami oksidasi. Dia memberi contoh besi yang kalau lama dibiarkan di udara terbuka mengalami karatan. Bahan makanan pun demikian.
Apalagi kalau makanan itu digoreng dengan minyak. Minyaknya sendiri sudah persoalan, apalagi kalau minyak itu sudah teroksidasi. Karena itu, kalau makan makanan yang digoreng saja sudah kurang baik, akan lebih parah kalau makanan itu sudah lama dibiarkan di udara terbuka. Minyak yang oksidasi, katanya, sangat bahaya bagi usus. Maksudnya, mengolah makanan seperti itu memerlukan enzim yang banyak.
Apa saja makanan yang direkomendasikan? Sayur, biji-bijian, dan buah. Jangan terlalu banyak makan makanan yang berprotein. Protein yang melebihi keperluan tubuh ternyata tidak bisa disimpan. Protein itu harus dibuang. Membuangnya pun memerlukan kekuatan yang ujung-ujungnya juga berasal dari lumbung enzim. Untuk apa makan berlebih kalau untuk mengolah makanan itu harus menguras enzim dan untuk membuang kelebihannya juga harus menguras lumbung enzim.
Prof Hiromi sendiri secara konsekuen menjalani prinsip hidup seperti itu dengan sungguh-sungguh. Hasilnya, umurnya sudah 70 tahun, tapi belum pernah sakit. Penampilannya seperti 15 tahun lebih muda. Tentu sesekali dia juga makan makanan yang di luar itu. Sebab, sesekali saja tidak apa-apa. Menurunnya kualitas usus terjadi karena makanan "jelek" itu masuk ke dalamnya secara terus-menerus atau terlalu sering.
Terhadap pasiennya, Prof Hiromi juga menerapkan "pengobatan" seperti itu. Pasien-pasien penyakit usus, termasuk kanker usus, banyak dia selesaikan dengan "pengobatan" alamiah tersebut. Pasiennya yang sudah gawat dia minta mengikuti cara hidup sehat seperti itu dan hasilnya sangat memuaskan. Dokter, katanya, banyak melihat pasien hanya dari satu sisi di bidang sakitnya itu. Jarang dokter yang mau melihatnya melalui sistem tubuh secara keseluruhan. Dokter jantung hanya fokus ke jantung. Padahal, penyebab pokoknya bisa jadi justru di usus. Demikian juga dokter-dokter spesialis lain. Pendidikan dokter spesialislah yang menghancurkan ilmu kedokteran yang sesungguhnya.
Saya mencoba mengikuti saran buku ini sebulan terakhir ini. Tapi, baru bisa 50 persennya. Entah, persentase itu akan bisa naik atau justru turun lagi sebulan ke depan.
Yang menggembirakan dari buku Prof Hiromi ini adalah: orang itu harus makan makanan yang enak. Dengan makan enak, hatinya senang. Kalau hatinya sudah senang dan pikirannya gembira, terjadilah mekanisme dalam tubuh yang bisa membuat enzim-induk bertambah. Nah..... gan pei!
Selengkapnya...
